Semalam saya sempetin buat nonton Suckseed untuk kedua kalinya. Kalo yang pertama kali tahun kemarin cuma dilompat-lompat doang karena cuma pengen liat cantiknya si Natacha Nualjam, kali ini film ini ditonton sampai tuntas dari awal sampai akhir, bahkan saat adegan konsernya diulang sampai beberapa kali saking kerennya.

Sebenarnya scene konser sengaja diulang bukan hanya karena penampilan band Suckseed dan Arena saja yang keren. Tapi scene ini mengingatkan banyak kenangan di jaman SMA dulu. Yup, secara ngga langsung film ini menjadi nostalgia saya tentang jaman sma saya. Dari main bareng Fige, seorang yang menurut saya berbakat menjadi musisi. Pertemanan ini ngga sengaja juga, karena kita satu kelas saat di kelas 2 SMA dan pernah beberapa kali ikut kepanitiaan bareng, akhirnya jadi kenal dan dekat. Dan akhirnya saat ada audisi untuk sebuah event di sekolah kami, Fige yang kelimpungan mencari personel baru untuk bandnya mengajak saya untuk ambil bagian. Saya yang pernah main di band lain sebagai bassist dituntut untuk memainkan peran itu lagi di band baru ini. Band tanpa nama yang semula personelnya hanya empat orang dari kelas kami, Fige, Faiq, Fani, dan saya, Dhika. Kayaknya nama bandnya FFFD bagus tuh, kalo ngga F3D. Hahaha.

Audisi sukses, kami manggung pertama kalinya di acara Ngabuburit with Smansa, sebuah acara musik untuk umum di taman belakang sekolah. Yang nonton? Ngga tanggung-tanggung hampir semua orang Tegal yang lewat di daerah tersibuk di Kota Tegal ini berhenti sejenak untuk menonton kami. What a great moment! Dengan additional vocal Yasser, kami pun langsung dikenal oleh seantero sekolahan.

Sejak saat itu, tiap akhir pekan, setiap ada uang saku tersisa, setiap akan ada event rumah kami pindah ke studio sejenak. Di kelas pun kadang kami tidak memperhatikan pejelasan guru tentang mekanika fluida ataupun entalpi reaksi kimia. Perhatian kami kadang  teralihkan oleh musik-musik baru, arrasemen baru, kadang nyanyi-nyayi di pojokan. Beberapa kali bongkar pasang personel, ada yang masuk, ada yang tukeran sama band lain, dan akhirnya dapat formasi paling pas seperti sekarang, Faiq keluar, sedangkan Ipang masuk memberi tambahan warna dengan keyboardnya. Vocalist kami pun diisi oleh Sita yang suaranya wonderful mau lagu genre apapun, bagus aja kalo dinyanyiin nih anak. Sedangkan posisi gitar 2 diisi oleh Seto yang harmonisasinya luar biasa. Formasi ini terbentuk di akhir kelas 2, saat hendak manggung untuk acara prom sekolah kami.

Banyak momen yang terjadi bersama mereka. Dari pesan studio untuk latian, tapi saat latian malah pada ngobrol karena ngga ada ide mau main apa. Nongkrong di penjual es tebu selama berjam-jam, muter-muter keliling kota buat nyari studio musik, curhat-curhatan, sampai kadang bikin onar di backstage. Ngga nyangka itu semua jadi kenangan manis sekarang ini.

Pernah juga, saat setelah UN, saat kami mengejar universitas impian kami masing-masing, latian untuk manggung dilakukan ala kadarnya. Kalau personel yang ada di Tegal cuma 4 ya ber-empat kami latihan. Dan seringnya sih kami latian tanpa sang vocalist karena Sita sedang mengikuti bimbingan UM dan SNMPTN. Dan itu berlangsung sampai H-1 acara. Malamnya kami latian berjam-jam di studio, perbaikan disana-sini, njajan bareng, tertawa bareng.

Jadi anak band memang asik, solidaritas, persahabatan hingga serasa jadi keluarga untuk menghasilkan tak hanya sebuah lagu ataupun arrasemen, Namun menghasilkan harmoni emosi yang membuat kami dan pendengar terbang ke mimpi kami masing-masing selama empat menit atau lebih. Untuk menghasilkan harmoni yang dapat membuat kita melupakan kesusahan hidup untuk sejenak.

Setelah, hampir dua tahun bersama dalam satu band, Prom 2010 adalah panggung terakhir kami. Di penghujung acara ini, kami merenung tentang masa depan kami masing-masing dari tempat kami duduk saat itu. Tentang masa depan kami, tentang nasib band kami yang entah apakah malam itu merupakan malam terakhir kami sebagai anak band, atau tentang pertemanan kami yang nantinya dipisahkan oleh jarak dan kesibukan yang berbeda-beda.

Dan, memang benar, malam itu terakhir kalinya saya berjingkrak-jingkrak sambil main bass di atas panggung, malam itu terakhir kalinya saya melihat Fige dan Sita dengan mesranya bernyanyi bersama, malam itu terakhir kalinya saya melihat Fani tersenyum dibelakang drumnya, malam itu terakhir kalinya saya melihat Seto dengan gayanya yang flamboyan, dan Ipang dengan jari-jari lincahnya diatas keyboard.

Sudah hampir dua tahun, dan hari ini saya merindukan mereka semua. Mereka yang pernah mewarnai hari-hari putih abu-abu dengan harmoni-harmoni musiknya. Saat ini Fige tengah sibuk mengejar mimpinya sebagai seorang guru fisika, Sita di Semarang dengan mimpinya menjadi seorang insinyur teknik kimia. Entah bagaimana hubungan mereka saat ini, I think you two are a nice couple, and I wish you have a happy ending story of your love. hehehehe. Fani saat ini sibuk bekerja di daerah Kerawang, Jakarta. Ipang tahun depan mungkin sudah lulus dari STAN dan menjadi akuntan negara. Seto, dimana dia sekarang? Seto sekarang menjadi pemerhati hutan, ia kuliah di Kehutanan UGM jogja.

Thanks for all moment we share together, and wherever you are, I miss you guys.

One thought on “Tentang Musik Kami Dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s