Bulgogi VS Dompet Mahasiswa

Jum’at malam, saya dan teman-teman asisten Lab Gambar Teknik hang out bareng dan foto bersama. Yah selain untuk kenang-kenangan karena ada asisten yang minggu depan (tanggal 26 November) akan wisuda, hang out kali ini untuk mengakrabkan lagi hubungan kami sebagai partner kerja dan teman seperjuangan dalam lab. Kami berangkat pada pukul 19.30 dari kampus tercinta IT Telkom, cukup malam memang, namun kami tetap semangat menyusuri jalanan kota Bandung yang tetap padat meskipun jarum jam mulai merangkak naik.

Agenda pertama kami, berfoto bersama di Papyrus. Setelah berfoto di studio, tanpa dikomando kami berfoto ria di segala penjuru Papyrus. Hal ini lazim dilakukan di studio ini karena hampir semua sudut ruangan Papyrus mempunyai view yang menarik untuk dijadikan background foto. Bahkan ada beberapa orang yang sudah cukup puas dengan berfoto ria dengan kamera sendiri di area studio ini tanpa perlu melakukan foto di studio milik Papyrus yang tentunya cukup mahal.

Usai foto bersama, kami berencana nongkrong dan makan di cafe-cafe di Bandung. Namun, sialnya kami keluar di hari yang agak tidak pas. Jelas saja kami main di Jum’at malam, dimana kebanyakan cafe tidak buka hingga tengah malam. Karena cafe tujuan tidak buka disaat kami keluar studio (pukul 21.30) akhirnya rasa lapar kami labuhkan ke cafe Tahu Tidur di daerah Burangrang, Bandung.

Disini suasananya cukup santai, dan menu makanannya cukup menarik. Setelah berfikir cukup lama (sebenarnya sih galau harga menu) saya memilih menu yang paling banyak dipilih teman-teman asisten, “Bulgogi”! Apa itu bulgogi? Saya juga ngga tahu, asal ikut-ikutan dan berharap masakannya enak.

Dan, kehebohan terjadi pada saat makanan diantar. Menu Bulgogi yang di buku menu terlihat banyak dan enak, pada saat di suguhkan ternyata hanya sebanyak 5 iris besar (ukuran 2,5cm x 2cm), serta beberapa irisan kecil (ukuran 1cm x 1,5cm). Cacing di perut langsung demo besar-besaran melihat fakta makan malam kali ini sangatlah tidak memuaskan untuk ukuran perut mahasiswa. Belum lagi lembaran-lembaran Kapiten Patimura tertawa terbahak-bahak melihat demo cacing di perut saya. Yap! Menu dengan porsi sesedikit itu dibandrol dengan harga IDR 15.500 belum termasuk nasi! Tahu akan begini saya tadi ikut suara yang menyarankan makan di Warung Steak saja yang cukup memuaskan dalam hal harga dan porsi.

Yah, malam itu saya belajar satu hal. Cobalah teliti lebih lanjut foto dalam buku menu jika tidak ingin tertipu memilih menu. Alih-alih memilih menu dengan porsi banyak dan harga murah (porsi mahasiswa) malah memilih menu dengan harga mahal dan porsi diet (harga konglomerat).

Namun, diatas segalanya, di atas perang batin-kepuasan antara bulgogi dan dompet saya malam itu, Jumat malam itu cukup indah secara sentimenal! Pada akhirnya kami bisa main bareng, keluar bareng, ketawa-ketawa bareng, foto-foto bareng, dan menikmati indahnya malam bersama. What a nice night with GTX big family :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s